BRI Bukukan Laba Rp 31,2 Triliun pada Triwulan II 2026, Kredit UMKM Capai Rp 1.235 Triliun

PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI membukukan laba bersih sebesar Rp 31,2 triliun hingga akhir Triwulan II 2026.

bdjtimes.com, JAKARTA – PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI membukukan laba bersih sebesar Rp 31,2 triliun hingga akhir Triwulan II 2026. Capaian tersebut tumbuh 17,5 persen secara tahunan atau year on year (yoy).

Pertumbuhan kinerja tersebut ditopang penguatan fundamental perseroan, perbaikan kualitas aset, serta peningkatan profitabilitas di tengah dinamika perekonomian dan industri perbankan.

Direktur Utama BRI Hery Gunardi mengatakan, perseroan tetap konsisten menjalankan perannya sebagai penggerak ekonomi kerakyatan dengan menempatkan segmen Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) sebagai bisnis utama.

Hingga akhir Juni 2026, sebanyak 75,1 persen dari total portofolio kredit dan pembiayaan BRI Group disalurkan kepada segmen UMKM.

“Di tengah transformasi yang terus kami jalankan, satu hal yang tidak berubah adalah komitmen BRI untuk terus tumbuh bersama UMKM dan ekonomi kerakyatan Indonesia,” ujar Hery dalam pemaparan kinerja BRI di Kantor Pusat BRI, Jakarta, Senin (31/8/2026).

Dalam pemaparan tersebut, Hery didampingi Wakil Direktur Utama BRI Viviana Dyah Ayu R.K, Direktur Network & Retail Funding BRI Aquarius Rudianto, Direktur Finance & Strategy BRI Achmad Royadi, serta Direktur Manajemen Risiko BRI Ety Yuniarti.

Transformasi mulai berdampak pada kinerja

Hery mengatakan, kinerja positif BRI diraih di tengah kondisi perekonomian Indonesia yang masih resilien.

Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada Triwulan II 2026 berada di kisaran 5,30 persen, sementara inflasi tercatat sebesar 3,34 persen.

Di sisi lain, aktivitas UMKM juga menunjukkan penguatan. Hal itu tercermin dari Indeks Bisnis UMKM yang meningkat dari 102,5 pada akhir 2025 menjadi 104,7 pada Triwulan I 2026.

Menurut Hery, posisi indeks di atas 100 menunjukkan pelaku UMKM secara umum masih berada dalam fase ekspansi dan optimistis terhadap aktivitas usahanya.

Dalam menjaga pertumbuhan, BRI terus menjalankan transformasi melalui program BRIVolution Reignite.

Transformasi tersebut berfokus pada dua agenda utama, yakni memperkuat funding franchise serta melakukan pembaruan terhadap bisnis inti yang sudah ada sekaligus membangun sumber pertumbuhan baru.

Dari sisi pendanaan, BRI berupaya memperbesar basis dana murah melalui pendekatan berbasis ekosistem. Perseroan juga memperkuat kanal digital, mulai dari akuisisi merchant, transaksi BRImo, QRIS, hingga jaringan AgenBRILink.

Di sisi lain, bisnis mikro terus diperkuat melalui penyempurnaan proses bisnis, peningkatan kapabilitas tenaga pemasar atau mantri, serta penerapan manajemen risiko yang semakin terukur.

“Transformasi yang kami jalankan bukan semata untuk mengejar pertumbuhan yang tinggi. Fokus kami adalah memastikan BRI memiliki mesin pertumbuhan yang semakin terdiversifikasi, sehat, berkualitas, dan berkelanjutan,” kata Hery.

Aset BRI capai Rp 2.352 triliun

Implementasi transformasi tersebut mulai tercermin dalam kinerja keuangan BRI.

Secara konsolidasian, aset BRI hingga akhir Triwulan II 2026 mencapai Rp 2.352 triliun atau tumbuh 11,7 persen secara tahunan.

Pertumbuhan tersebut terutama ditopang kredit dan pembiayaan yang meningkat 16,2 persen yoy menjadi Rp 1.646 triliun.

Sementara itu, Dana Pihak Ketiga (DPK) mencapai Rp 1.581 triliun atau tumbuh 6,7 persen secara tahunan.

Sejalan dengan pertumbuhan bisnis, pendapatan bunga bersih atau net interest income BRI meningkat 9,9 persen yoy dari Rp 73,3 triliun menjadi Rp 80,5 triliun.

Kemudian, Pre-Provision Operating Profit (PPOP) juga tumbuh 12,8 persen secara tahunan menjadi Rp 65,7 triliun.

“Capaian tersebut menunjukkan bahwa transformasi mulai kami konversikan menjadi kinerja. Bagi kami, yang terpenting bukan hanya seberapa cepat BRI bertumbuh, tetapi bagaimana pertumbuhan tersebut dihasilkan dari fundamental yang semakin sehat,” ujar Hery.

Fundamental semakin sehat

Pertumbuhan kinerja BRI juga diiringi penguatan sejumlah indikator fundamental.

Cost of Fund (CoF) secara bank only turun dari 3,0 persen pada Triwulan II 2025 menjadi 2,4 persen pada periode yang sama tahun ini.

Dari sisi efisiensi, Cost to Income Ratio (CIR) membaik dari 41,9 persen menjadi 39,2 persen.

Kualitas aset juga menunjukkan perbaikan. Rasio kredit bermasalah atau Non-Performing Loan (NPL) turun dari 3,0 persen menjadi 2,9 persen.

Sementara itu, Cost of Credit (CoC) membaik dari 3,4 persen menjadi 3,1 persen.

Penguatan fundamental tersebut turut menopang kemampuan BRI dalam menghasilkan imbal hasil. Return on Asset (ROA) terjaga pada kisaran 2,7 persen, sedangkan Return on Equity (ROE) meningkat dari 16,6 persen pada Triwulan II 2025 menjadi 18,8 persen pada Triwulan II 2026.

“Berbagai indikator tersebut menunjukkan bahwa pertumbuhan yang kami capai semakin berkualitas. Funding semakin efisien, efisiensi operasional membaik, kualitas aset semakin sehat, dan kemampuan BRI dalam menghasilkan return juga semakin kuat,” kata Hery.

Kredit UMKM capai Rp 1.235,4 triliun

BRI tetap mempertahankan UMKM sebagai fondasi utama bisnis perseroan.

Hingga akhir Triwulan II 2026, kredit kepada segmen UMKM mencapai Rp 1.235,4 triliun atau tumbuh 8,6 persen secara tahunan.

Jumlah tersebut setara dengan sekitar 75,1 persen dari keseluruhan portofolio kredit dan pembiayaan BRI Group.

Menurut Hery, pengembangan sumber pertumbuhan baru tidak mengubah karakter BRI sebagai bank yang tumbuh bersama ekonomi kerakyatan.

“BRI tetap konsisten menjadikan UMKM sebagai core business. Kami percaya pertumbuhan BRI harus berjalan beriringan dengan pertumbuhan pelaku usaha dan aktivitas ekonomi masyarakat,” ujarnya.

Perkuat pemberdayaan UMKM

Selain melalui pembiayaan, BRI juga memperkuat pemberdayaan UMKM melalui berbagai program.

Hingga Juni 2026, program Desa BRILiaN telah menjangkau lebih dari 5.700 desa binaan.

Sementara itu, program Klasterku Hidupku telah menjangkau lebih dari 44.000 klaster usaha.

Melalui platform digital LinkUMKM, BRI telah menjangkau sekitar 17,3 juta pelaku UMKM. Adapun pendampingan melalui Rumah BUMN telah melibatkan sekitar 596.000 pelaku UMKM hingga Juni 2026.

BRI juga terus memperluas akses pembiayaan melalui Kredit Usaha Rakyat (KUR).

Sepanjang Januari hingga Juni 2026, BRI telah menyalurkan KUR sebesar Rp 103,8 triliun kepada lebih dari 2 juta debitur.

Secara kumulatif sejak 2015 hingga Juni 2026, penyaluran KUR BRI mencapai Rp 1.539 triliun kepada 48,4 juta nasabah.

Hery menegaskan, pembiayaan dan pemberdayaan menjadi dua hal yang tidak dapat dipisahkan dalam upaya mendorong UMKM naik kelas.

“Bagi BRI, pembiayaan dan pemberdayaan merupakan satu kesatuan. Kami ingin menciptakan siklus pertumbuhan yang berkelanjutan, di mana UMKM memperoleh akses keuangan, mendapatkan pemberdayaan dan pendampingan, meningkatkan kapasitas usahanya, kemudian naik kelas,” ujar Hery.

Ia menambahkan, keberhasilan BRI tidak hanya diukur dari pertumbuhan aset, kredit, dan laba, tetapi juga dari sejauh mana pertumbuhan tersebut mampu menciptakan nilai dan menggerakkan perekonomian masyarakat.

“Dengan fundamental yang semakin kuat dan transformasi yang terus berjalan, BRI akan konsisten tumbuh bersama ekonomi kerakyatan Indonesia,” pungkas Hery.


Lebih baru Lebih lama